Artikel

Hafira Skin Care Utamakan Kualitas dan Jadi Rujukan Kasus Kosmetik Akibat Pemakaian Tidak Tepat

Edisi Kartini Millenial

Setinggi Apapun para Wanita, jangan lupa akan kodratnya.

Sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Prinsip ini yang ditekankan dalam perjalanan karir dokter kelahiran Bangil, 24 Juni, dr. Firdausi Nurharini, SpKK., FINSDV. atau lebih dikenal dengan dr. Firda N. Kusdwiharto, Sp.KK, FINSDV. Komitmen antara karir, keluarga dan pelayanan terhadap masyarakat berhasil dijalankannya dengan baik dan sepenuh hati. Dr. Firda sangat mensyukuri memiliki keluarga yang sangat mendukung karir yang dijalani. Tanpa mereka, ia merasa bukan apa- apa. Tidak ada tempat berlabuh yang paling nyaman di dunia selain keluarga. Meskipun ia dan suami terpisah jarak, ia di Surabaya dan suami di Jakarta, namun jarak bukanlah masalah ataupun menjadi penghalang. Hari Sabtu Minggu adalah waktu untuk keluarga. Kualitas waktu dimaksimalkan di hari tersebut dengan berbagi cerita dan kebahagiaan.

Perjalanan Karir.

Dr. Firda merupakan anak keempat dari enam bersaudara dan semuanya perempuan. Almarhum ayahnya seorang guru SMA sekaligus wiraswasta yang bergerak di bidang pertanian. Ibunya juga seorang guru SMA, selain berprofesi sebagai perias manten. Di dalam keluarganya tidak ada yang menjadi dokter.

Alasan mengapa dr. Firda memutuskan mengejar cita-cita sebagai dokter karena ia tidak suka Fisika dan Biologi. Ia yakin dunia kedokteran akan lebih menarik daripada sekadar menghafal tentang nama-nama latin tumbuhan. Akhirnya ia berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlanga Surabaya, angkatan 1991 dan lulus pada Januari 1998.

Istri dari Ir. Wiluyo Kusdwiharto, MBA., yang saat ini menjabat sebagai Direktur Regional Bisnis Sumatera PT PLN (Persero), dan ibunda dari Safira Fakhrizah Wildani (Kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang) dan Hasan Faizal Wildan (SMAN 9 Surabaya) ini, sempat menjalani karir sebagai Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Bengkulu. Tepatnya di Kabupaten Rejang Lebong selama delapan tahun. Terhitung mulai tahun 1998 sampai 2006.

Ketika itu, dr. Firda memilih Kabupaten Rejang Lebong sebagai tempat tugas pertama karena suaminya merupakan seorang karyawan PT PLN yang ditugaskan di daerah tersebut. Selain berkarir, ia juga pernah meraih prestasi membanggakan yaitu menjadi Juara 1 Dokter Teladan Tingkat Provinsi Bengkulu, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan Spesialisasi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya pada tahun 2006 dan lulus tahun 2009.

Setelah lulus dari pendidikan spesialisasi, dr. Firda bertugas di RS Haji Surabaya. Atas dasar rasa nekat dan keinginan untuk berkembang, ia memutuskan untuk mendirikan klinik kecantikan yang bernama Hafira Skin Care. Kini kliniknya sudah memiliki dua cabang di Jl. Ketintang Timur PTT III/46, Surabaya, dan Jl. Patimura 2 Bangil, Pasuruan.

Klinik yang dibangun dr. Firda lebih mengutamakan kepada kualitas karena sering menjadi rujukan kasus kosmetik akibat pemakaian produk perawatan yang tidak tepat, sehingga timbul jerawat, kulit sensitif, iritasi, melasma bahkan ochronosis. Kliniknya juga menangani problem kebotakan, pelangsingan dan kasus lainnya seperti Vitiligo. Jenis pelayanan di Hafira Skin Care sangat beragam mulai dari yang sederhana seperti Facial, Whitening Booster, Silkpeel Dermal Infusion, Platelet Rich Plasma (PRP), Dermaroller, Radio Frekuensi (RF), Intense Pulsed Light (IPL), Laser, Hifu, Cryolipolysis, Botox, Filler, Thread Lift, Healite dan lain-lain. Semua treatment di kliniknya dikerjakan oleh dokter spesialis kulit, perawat dan beautician yang kompeten.

Selain membangun dan mengembangkan Hafira Skin Care, dr. Firda tercatat sebagai Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang dan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya. Ia juga aktif di sejumlah organisasi di antaranya anggota kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI), anggota Kelompok Studi Dermatologi Laser Indonesia (KSDLI), anggota Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI), anggota Kelompok Studi Dermatologi Sosial Indonesia (KSDSI), aktif sebagai speaker simposium, seminar, talkshow baik dalam organisasi profesi maupun organisasi sosial, beauty consultant beberapa majalah popular nasional di tanah air, Ketua Organisasi Persatuan Istri Karyawan Karyawati (PIKK) PT.PLN (Persero) Regional Sumatera.

Di waktu luang dr. Firda biasanya menghabiskan waktu dengan berolahraga dan mengoleksi wastra nusantara (songket, tenun, batik, dan lain-lain). Hobi baginya adalah mood booster.
Dengan mengoleksi wastra nusantara seperti songket, tenun, batik dan lain-lain akan mendatangkan kepuasan tersendiri. Mengenakan wastra nusantara dalam acara resmi seperti pesta pernikahan membuat perempuan Indonesia terlihat anggun, elegan dan bermartabat.

Tantangan dan Suka Duka

Banyak tantangan dan suka duka yang harus dialami dan dirasakan selama membangun klinik baik dari segi kosmetik maupun dari bidang penyakitnya sendiri. Standar kecantikan sebagian orang Indonesia adalah berwajah putih dan tidak berpori karena mereka berkiblat ala artis Korea yang pada dasarnya sudah putih. Di luar sana banyak dijual krim pemutih wajah yang beraneka ragam dengan harga bervariasi seperti jamur di musim hujan yang tumbuh subur. Mereka menjual karena ada permintaan tinggi dari konsumen walaupun keamanannya tidak dapat dipastikan.

Dalam mengedukasi masyarakat mengenai hal ini bukan perkara mudah. Banyak yang menginginkan hasil serba instan dan murah. Begitu timbul masalah baru pergi ke dokter spesialis kulit yang tentunya akan menghabiskan biaya tidak sedikit karena kulit wajah menjadi rusak dan sensitif, berjerawat dan timbul flek. Apalagi sekarang marak sekali di pasaran bahkan media sosial yang menjual hand body whitening instan yang dioleskan 1-2 minggu akan menghasilkan kulit menjadi putih. Namun efeknya sangat berbahaya karena menimbulkan stretch mark sehingga tidak dapat pulih seperti sedia kala.

Selain di bidang kosmetik, dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan anak-anak muda dan orang dewasa, hubungan seksual bebas bukan menjadi hal yang tabu. Akibatnya kasus penyakit menular seksual meningkat dan yang lebih memprihatinkan mereka biasanya sudah mencoba mengobati sendiri sebelum akhirnya ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Akibatnya banyak pasien yang resisten terhadap antibiotic atau datang dengan kondisi yang parah. Karena itu menjadi sangat penting pendidikan seksual disampaikan pada usia remaja agar mereka mendapatkan info yang tepat dan benar dari ahlinya bukan bertanya di media sosial yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selanjutnya banyak fenomena di mana tindakan filler, tanam benang bahkan laser dilakukan oleh masyarakat awam.

Akibatnya bukan tambah baik dan berhasil, tetapi bertambah parah dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Tak hanya tantangan atau duka yang dirasakan, ia juga merasakan banyak hal-hal yang menyenangkan di mana pekerjaannya di bidang estetik langsung terlihat hasilnya sehingga membuat dokter dan pasiennya sama-sama puas, seperti koreksi wajah dengan filler yang hasilnya bisa langsung terlihat seketika.

Untuk mengatasi tantangan yang ada, dr. Firda berusaha menunjukkan dengan bukti dan hasil yang ada. “Di Hafira Skin Care kami sebuah tim. Saya selalu menyampaikan bahwa produk dan treatment yang digunakan selalu berkualitas, sehingga jangan ragu untuk menawarkan dan menjual ke pasien. Saya bersyukur selama ini pasien merasa puas akan hasil yang diperoleh dengan harga terjangkau serta kompetitif.”
 

Prospek ke Depan

Sesungguhnya prospek di bidang estetika sangat menjanjikan. Dengan meningkatnya usia harapan hidup dan perekonomian Indonesia, maka keinginan untuk tampil cantik juga meningkat. Tidak bisa dipungkiri, wajah yang biasa saja bila dirawat akan menjadi cantik. Sebaliknya wajah cantik jika tidak dirawat akan menjadi biasa saja. Perawatan wajah bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder, tetapi kebutuhan primer. Apalagi jika mereka berkarir, maka penampilan sangat diperhatikan. Hanya saja kendalanya sebagai pelaku di bidang estetika adalah banyaknya produk yang tidak jelas keamanannya. Produk yang dijual bebas baik secara langsung maupun melalui online.

Di samping itu, dengan banyaknya alat-alat baru yang terus berganti, tetap harus pintar memilih berdasarkan kebutuhan yang berbasis teori, sehingga alat yang dibeli tidak merugikan dan bermanfaat untuk pasien dalam menyelesaikan masalahnya. Sedangkan untuk dokter sebagai profesional di bidang estetika dan penyakit kulit harus selalu update ilmu pengetahuan agar tidak ketinggalan. “Rencana ke depan, saya akan mengembangkan cabang baru agar dapat memberikan manfaat lebih banyak lagi ke masyarakat...Doakan ya..” WD

Image placeholder
Dr. Firda N. Kusdwiharto, Sp. KK, FINSDV

Founder Klinik Spesialis Kulit & Kelamin, Estetika dan Anti Aging